LEGONG SEMARANDHANA DANCE

 The dance starts with Semara and his new bride, Ratih, the Goddess of Moon. Ratih, the dancer retreats to the backstage for a moment and re-appears putting on the mask of the she-devil, Rangda. This is when the story begins.

A long time back, one of the Raksasa (starved, beast like giant tribes inferior to man, with the inborn power of demons), named Nilaludraka, was anxious to acquire the power to control this world and was practicing meditation. Siva was so impressed with his enthusiasm that he gave him the mighty power – Nilaludraka could never be over come by any Gods nor man, except Siva. Post that he won many battles one after another, until there was none left in heaven nor on earth to compete with. All the Gods were flustered.

Unfortunately, Siva was devoted to meditation at the top of the Himalayas. No one could approach him, because his wrath could turn everyone to ashes at once. Gods gathered and conceived a plan to send the son of Siva, Semara, to the Himalayas as their envoy. Semara, in spite of his new bride, Ratih’s strong opposition, resolutely departed and Ratih followed him with tears. As they approach the Himalayas, the meditation of Siva was apparently disturbed. With rage, Siva laid Semara, Ratih and all in the troupe to ashes in a moment. Opening his eyes from meditation, Siva faced squarely the death of his son and wife. Lamenting for their unexpected death, Siva scattered the ashes all over the world (thanks to this, it is said, man has love in his hearth). Driven by love of Semara, Siva and his wife Parwati got a child, half-animal monster, who would later conquer Nilaludraka.

 

Pembabakan diawali dengan Semara dan pengantin barunya, Ratih ( dewi bulan ), masuk ke pangung. Akhirnya  penari bermain sebagai Ratih mundur kebagian belakang dan memakai sebuah topeng Rangda untuk memainkan tokoh Dewa Siwa.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu, seorang raksasa bernama Nilaludraka, yang ingin menguasai dunia, sedang bertapa. Ketika Siwa turun ke dunia, dia terkesan dengan semangat Nilalaudraka dan menghadiahkannya semacam kekuatan dimana dia tidak bisa dikalahkan oleh dewa atau manusia kecuali penjelmaan Siwa yang berupa raksasa yang separuh binatang. Karena Nilaludraka  tidak pernah kalah, dia terus berperang sampai tidak ada lawan lagi di sorga atau di bumi. Semua dewa merasa kesal dan setelah berunding memutuskan mohon bantuan dari Siwa yang sedang bertapa di Gunung Himalaya. Akan tetapi, Siwa tidak bisa di dekati karena kalau meditasi diganggu, dia mampu menghancurkan semunya yang disekelilingnnya. Akhirnya Dewa – dewa memutuskan untuk minta bantuan dari anak Siwa, yaitu Semara. Oleh karena itu, Semara berangkat ke Gunung Himalaya sebagai utusan dewa untuk mengganggu meditasi Siwa. Meskipun Ratih tidak setuju dengan kepergian suminya, Semara tetap berangkat ke Gunung Himala. Akhirnya, Semara  berhasil mengganggu meditasi Siwa, dan sebagai akibatnya Semara dihancurkan oleh Siwa menjadi abu. Setelah Ratih mendengar berita duka tentang suminya, dia langsung ke sana, dan menjatuhkan diri ke dalam api yang masih menyala, akhirnya, ketika Siwa sadar tentang kematian Semara dan Ratih, dia menyesal, dan sebagai tanda menyesal, dia menaburkan abu Semara dan Ratih di seluruh dunia. Tindakan ini memberkati sema mahluk hidup di dunia untuk merasakan rasa cinta.

Didukung oleh cinta Semara dan Ratih, Istri Siwa, Parwati, melahirkan seorang anak separuh binatang yang memiliki kesaktianuntuk mengalahkan Nilaludraka

Get the tickets now or contact your agent.
Our regular performances, starting from 7.30PM every Friday.
Copyright 2019 Balerung Bali. Designed and maintained by baliwebpro.com